, ,

TPU di Takatidung Polman Hancur Diterjang Gelombang Pasang, Warga Desak Pemerintah Bangun Tanggul

oleh -550 Dilihat

Wawasan Polewali – Gelombang pasang tinggi yang melanda pesisir Kelurahan Takatidung, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), menyebabkan kerusakan parah di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Puluhan makam dilaporkan tergerus ombak, bahkan sebagian nisan terbawa arus laut. Kondisi ini membuat warga sekitar cemas dan mendesak pemerintah untuk segera membangun tanggul penahan ombak.

Puluhan Makam Rusak dan Terbongkar

Peristiwa itu terjadi pada Rabu malam (15/10) saat air laut pasang disertai angin kencang. Gelombang tinggi mencapai bibir pantai dan menghantam area pemakaman yang berada hanya beberapa meter dari garis pantai. Sejumlah warga berusaha mengevakuasi nisan dan membersihkan area, namun sebagian besar sudah hancur akibat terjangan ombak.

Salah seorang warga, Samsuddin (53), mengaku prihatin melihat kondisi TPU yang selama ini menjadi tempat peristirahatan keluarganya.

“Makammuami keluarga saya sudah separuh tertimbun pasir dan air laut. Batu nisannya juga hilang terseret ombak,” ucapnya sedih.

Ia menuturkan, kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Namun, kali ini dampaknya jauh lebih parah karena gelombang pasang datang berturut-turut selama beberapa hari terakhir.

“Kami sudah sering sampaikan ke pemerintah agar dibangun tanggul, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” tambahnya.

Warga Gotong Royong Selamatkan Area Pemakaman

Setelah air laut mulai surut, warga setempat berinisiatif melakukan kerja bakti untuk mengevakuasi puing-puing nisan dan memperbaiki area makam yang rusak. Mereka juga membuat penghalang darurat dari karung pasir di sepanjang bibir pantai untuk mencegah ombak kembali masuk ke area pemakaman.

“Kami lakukan semampunya saja, karena kalau dibiarkan bisa-bisa seluruh makam di sini habis,” ujar Rasmin (42), tokoh masyarakat Takatidung.

Ia menambahkan, warga sudah berulang kali mengusulkan pembangunan tanggul penahan ombak melalui musyawarah kelurahan dan rapat bersama pemerintah kecamatan. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut yang nyata.

Pemerintah Diminta Turun Tangan

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera meninjau lokasi dan mengambil langkah cepat untuk menangani abrasi pantai yang terus mengancam area pemakaman dan permukiman warga.

Ketua RT setempat, Abdul Haris, menyebutkan bahwa jarak antara bibir pantai dan makam kini tinggal sekitar dua meter saja, padahal sebelumnya mencapai hampir 20 meter.

Takatidung
Takatidung

Baca juga: Postingan Facebook Bernada Menyinggung Nyaris Picu Pertikaian Antar Warga di Tutar Polman

“Setiap tahun bibir pantai semakin maju ke daratan. Kalau tidak segera dibuat tanggul, kemungkinan tahun depan makam di sini bisa habis,” ujarnya khawatir.

Ia juga mengungkapkan, selain TPU, beberapa rumah warga di sekitar lokasi turut terdampak air laut yang masuk hingga ke halaman rumah.

BPBD Polman Siapkan Langkah Darurat

Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polman mengaku telah menurunkan tim untuk meninjau langsung lokasi kejadian. Kepala BPBD Polman, H. Rahman, S.Sos, mengatakan pihaknya akan segera mengusulkan pembangunan tanggul penahan gelombang ke pemerintah provinsi dan pusat.

“Kami sudah kirim tim ke lapangan untuk melakukan pendataan dan dokumentasi kerusakan. Ini akan menjadi dasar pengajuan bantuan infrastruktur mitigasi bencana ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menyalurkan bantuan darurat berupa karung pasir, material batu, dan alat berat untuk membantu warga memperkuat area pesisir sementara waktu.

Ahli Peringatkan Dampak Abrasi di Pesisir Polman

Pengamat lingkungan Universitas Al Asyariah Mandar, Dr. Rudi Ahmad, menjelaskan bahwa abrasi di wilayah pesisir Polewali Mandar semakin mengkhawatirkan dalam lima tahun terakhir. Ia menilai faktor perubahan iklim dan penurunan vegetasi pantai seperti mangrove menjadi penyebab utama.

“TPU di Takatidung memang berada di area rawan abrasi. Seharusnya sejak awal dilakukan perlindungan dengan tanggul dan penanaman mangrove. Sekarang kondisinya sudah genting,” ungkapnya.

Rudi menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan tanggul beton, tetapi juga melakukan rehabilitasi ekosistem pesisir secara menyeluruh untuk mengurangi risiko abrasi jangka panjang.

Warga Harap Pemerintah Segera Bertindak

Sementara itu, warga berharap kejadian serupa tidak terus terulang setiap tahun. Mereka mendesak agar pemerintah daerah maupun provinsi tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen.

“Ini sudah menyangkut tempat suci, tempat keluarga kami dimakamkan. Kami hanya minta pemerintah peduli,” ujar Samsuddin dengan nada harap.

Kini, warga terus berjaga-jaga di sekitar area pemakaman setiap malam, khawatir ombak besar kembali datang dan menghancurkan makam yang tersisa. Mereka berharap tindakan cepat pemerintah bisa segera menyelamatkan area TPU Takatidung dari ancaman abrasi dan gelombang pasang yang kian parah.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.