Wawasan Polewali – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat roda perekonomian, terutama sektor transportasi, pertanian, perikanan, dan usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan solar.
Antrean panjang kendaraan, khususnya truk dan kendaraan angkutan barang, terlihat di sejumlah SPBU. Tak sedikit pengemudi yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar dalam beberapa hari terakhir.
Antrean Panjang di SPBU
Sejak beberapa hari terakhir, antrean kendaraan berbahan bakar solar tampak mengular di sejumlah SPBU di Polman. Pengemudi truk dan kendaraan niaga terpaksa menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM.
“Kadang sudah antre lama, tapi solar habis. Ini sangat merugikan kami,” keluh salah seorang sopir truk.
Situasi ini dinilai semakin memprihatinkan karena terjadi menjelang Nataru, saat aktivitas distribusi barang dan mobilitas masyarakat biasanya meningkat.
Sektor Transportasi Paling Terdampak
Kelangkaan solar paling dirasakan oleh pelaku usaha transportasi dan logistik. Sopir angkutan barang mengaku terancam tidak bisa beroperasi secara maksimal akibat sulitnya memperoleh BBM.
Jika kondisi ini terus berlanjut, distribusi bahan pokok dan kebutuhan masyarakat dikhawatirkan akan terganggu, yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasaran.
“Kalau mobil tidak jalan, barang juga tidak bisa dikirim. Ini bisa berdampak ke semua sektor,” ujar pengusaha angkutan di Polman.
Nelayan dan Petani Ikut Merasakan Dampak
Tak hanya sektor transportasi, nelayan dan petani juga ikut terdampak. Solar merupakan kebutuhan utama bagi nelayan untuk melaut serta petani yang menggunakan mesin berbahan bakar diesel untuk mengolah lahan.
Sejumlah nelayan mengaku terpaksa mengurangi aktivitas melaut karena kesulitan mendapatkan solar. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil tangkapan dan berdampak langsung pada pendapatan mereka.
“Susah solar, kami tidak bisa melaut maksimal. Kalau begini terus, penghasilan kami turun,” ungkap seorang nelayan.

Baca juga: Wabup Polman Hj. Andi Nursami Masdar Hadiri Peringatan Hari Jadi Kabupaten Mamuju Tengah ke-13
Pelaku Usaha Kecil Tertekan
Kelangkaan solar juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang menggunakan genset atau mesin produksi berbahan bakar solar. Beberapa pelaku usaha mengaku harus mengurangi jam operasional untuk menghemat BBM.
Hal ini dinilai dapat memperlambat perputaran ekonomi lokal, terutama di tengah momentum Nataru yang biasanya menjadi periode meningkatnya aktivitas perdagangan.
Kekhawatiran Mandeknya Roda Ekonomi
Pengamat ekonomi daerah menilai kelangkaan solar menjelang Nataru merupakan persoalan serius yang perlu segera ditangani. Jika tidak, kondisi ini berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi di Polman.
“Solar adalah urat nadi ekonomi, terutama di daerah yang sektor riilnya sangat bergantung pada BBM ini,” ujar seorang pengamat ekonomi lokal.
Ia menilai keterlambatan distribusi dan lemahnya pengawasan bisa menjadi faktor penyebab terjadinya kelangkaan.
Harapan pada Pemerintah dan Pertamina
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait, termasuk Pertamina, segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan solar. Penambahan kuota, pengawasan distribusi, serta penindakan terhadap praktik penyelewengan dinilai sangat dibutuhkan.
Pemerintah daerah diharapkan aktif berkoordinasi agar pasokan solar kembali normal, khususnya menjelang puncak arus Nataru.
Imbauan Agar Distribusi Tepat Sasaran
Sejumlah pihak juga mengimbau agar distribusi solar subsidi benar-benar tepat sasaran. Pengawasan di SPBU perlu diperketat untuk mencegah penimbunan dan penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berhak.
“Solar subsidi harus dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan, bukan disalahgunakan,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Ancaman Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Jika kelangkaan solar tidak segera diatasi, masyarakat khawatir akan terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok akibat terganggunya distribusi. Hal ini tentu akan semakin memberatkan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Kondisi ini juga dinilai berpotensi memicu keresahan sosial apabila berlangsung dalam waktu lama.
Harapan Pasokan Segera Normal
Menjelang Nataru, masyarakat Polman berharap pasokan solar dapat segera kembali normal agar aktivitas ekonomi berjalan lancar. Stabilitas ketersediaan BBM dinilai menjadi kunci utama menjaga daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
“Harapan kami sederhana, solar tersedia dan kami bisa bekerja seperti biasa,” ujar seorang sopir angkutan.
Kelangkaan solar di Polman menjadi pengingat pentingnya pengelolaan distribusi energi yang tepat, adil, dan responsif, terutama pada momentum-momentum krusial yang berdampak langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat.





