Wawasan Polewali – Krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali melanda wilayah Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di daerah ini mengalami kelangkaan pasokan, bahkan solar yang tersedia cepat habis hanya dalam hitungan jam. Akibatnya, puluhan truk pengangkut barang dan kendaraan bermuatan berat terpaksa parkir di pinggir jalan menunggu giliran atau pasokan baru.
Antrean Panjang di Sejumlah SPBU
Pantauan di lapangan pada Selasa, antrean kendaraan terlihat mengular di beberapa SPBU, terutama di jalur poros Trans Sulawesi. Banyak sopir truk mengeluhkan keterbatasan pasokan, karena solar habis hanya dalam waktu singkat setelah tangki suplai datang.
“Biasanya begitu mobil tangki datang, paling cuma bertahan dua sampai tiga jam. Setelah itu habis, dan kami harus menunggu lagi sampai esok hari,” ujar Rahman, seorang sopir truk pengangkut material bangunan.
Sopir Truk Merugi
Kelangkaan solar ini membuat para sopir truk merugi, terutama mereka yang membawa muatan barang ke luar daerah. Waktu perjalanan menjadi molor karena kendaraan harus terparkir berjam-jam, bahkan berhari-hari, di pinggir jalan.
“Barang jadi terlambat sampai ke tujuan. Kami rugi waktu, rugi biaya makan, belum lagi risiko keamanan karena harus parkir di pinggir jalan,” keluh Jufri, sopir truk lainnya.

Baca juga: Layani PPPK, Disdukcapil Polman Tambah Jam Operasional Hingga Malam
Dugaan Penyebab Kelangkaan
Sejumlah pihak menduga kelangkaan solar di Polman terjadi karena meningkatnya konsumsi menjelang musim panen dan aktivitas distribusi barang yang padat. Selain itu, ada juga kekhawatiran praktik penyalahgunaan solar subsidi, seperti penimbunan dan penyaluran ke sektor industri, yang ikut memperparah situasi.
Masyarakat berharap pemerintah dan aparat segera melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi solar agar benar-benar tepat sasaran sesuai peruntukannya.
Respons Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Polman melalui Dinas Perdagangan dan pihak terkait mengaku telah menerima laporan dari masyarakat. Pihaknya berjanji akan segera berkoordinasi dengan Pertamina dan aparat kepolisian untuk memastikan distribusi solar berjalan normal.
“Kami akan turun mengecek langsung di lapangan. Kelangkaan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena akan berdampak besar pada aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar seorang pejabat terkait.
Harapan Masyarakat dan Sopir
Para sopir berharap agar kelangkaan solar segera teratasi. Mereka menilai peran pemerintah, aparat, dan Pertamina sangat penting dalam mengendalikan distribusi BBM subsidi.
“Kami cuma minta solar lancar, jangan sampai seperti ini terus. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi, kalau mobil berhenti karena solar tidak ada, kami tidak bisa kerja,” kata salah seorang sopir dengan nada kesal.
Dengan kondisi ini, kelangkaan solar di Polman bukan hanya berdampak pada sopir truk, tetapi juga pada rantai pasokan barang dan harga kebutuhan masyarakat. Solusi cepat dan pengawasan ketat sangat diperlukan agar persoalan ini tidak berlarut.





