Wawasan Polewali – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polewali Mandar mencatat sebanyak 22 kejadian angin puting beliung dan 5 peristiwa tanah longsor terjadi sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa wilayah Polman masih tergolong rawan bencana hidrometeorologi, terutama saat musim penghujan dan peralihan cuaca ekstrem.
Catatan ini disampaikan BPBD Polman sebagai bahan evaluasi sekaligus peringatan dini bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Angin Puting Beliung Dominasi Kejadian Bencana
Berdasarkan data BPBD Polman, angin puting beliung menjadi bencana paling sering terjadi selama 2025. Puluhan kejadian tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, dengan dampak mulai dari kerusakan ringan hingga berat pada rumah warga, fasilitas umum, serta lahan pertanian.
“Sebagian besar kejadian angin puting beliung terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung singkat, namun dampaknya cukup signifikan,” ujar perwakilan BPBD Polman.
Kerusakan yang ditimbulkan umumnya berupa atap rumah terbang, pohon tumbang, serta terputusnya jaringan listrik di beberapa lokasi.
Lima Kejadian Longsor Timbulkan Kerusakan Infrastruktur
Selain puting beliung, BPBD Polman juga mencatat lima kejadian tanah longsor yang terjadi di wilayah perbukitan dan daerah dengan kontur tanah labil. Longsor tersebut sempat mengganggu akses jalan, aktivitas warga, serta mengancam keselamatan pemukiman di sekitarnya.
Beberapa titik longsor dilaporkan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Polman selama beberapa jam.
“Longsor umumnya dipicu curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang jenuh air,” jelas BPBD.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Arhamuddin-Kalaksa-BPBD-Pasangkayu-tengah-saat-diwawancarai.jpg)
Baca juga: Hak Warga Dipertaruhkan, Mie Gacoan Polewali Tersandung Kasus Lingkungan
Dampak terhadap Warga dan Aktivitas Sosial
Akibat rangkaian bencana tersebut, ratusan warga terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian harus mengungsi sementara, sementara lainnya mengalami kerugian material akibat kerusakan rumah dan harta benda.
Aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat juga sempat terganggu, terutama di wilayah yang akses jalannya tertutup longsor atau terdampak pohon tumbang.
BPBD Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Respons Cepat
BPBD Polman menegaskan terus meningkatkan kesiapsiagaan, respons cepat, dan koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana. Setiap kejadian dilaporkan langsung ditindaklanjuti dengan asesmen cepat, penyaluran bantuan darurat, serta koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa.
“Kami selalu berupaya hadir secepat mungkin di lokasi bencana untuk memastikan keselamatan warga dan kebutuhan dasar terpenuhi,” kata BPBD Polman.
Imbauan Waspada Cuaca Ekstrem
BPBD Polman mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya angin kencang, hujan lebat, dan longsor susulan. Warga yang tinggal di daerah rawan diminta untuk rutin memantau kondisi lingkungan sekitar dan segera melapor jika melihat tanda-tanda bahaya.
Masyarakat juga diingatkan untuk memangkas pohon besar di sekitar rumah, memperkuat atap bangunan, serta menghindari aktivitas di lereng atau bantaran sungai saat hujan deras.
Peran Aktif Masyarakat dalam Mitigasi Bencana
Selain upaya pemerintah, BPBD menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mitigasi bencana. Edukasi kebencanaan terus dilakukan melalui sosialisasi dan simulasi agar warga lebih siap menghadapi kondisi darurat.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” tegas BPBD.
Harapan Tekan Risiko Bencana ke Depan
Dengan adanya data dan evaluasi sepanjang 2025, BPBD Polman berharap upaya mitigasi dan pencegahan dapat terus diperkuat sehingga risiko dan dampak bencana dapat ditekan di masa mendatang.
Pemerintah daerah juga diharapkan terus mendukung penguatan sarana, prasarana, dan kapasitas penanggulangan bencana demi keselamatan masyarakat Polewali Mandar.





