Wawasan Polewali – Bangunan Pasar Bulo di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) yang menelan anggaran sekitar Rp 5 miliar kini justru terbengkalai dan tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Alih-alih menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, pasar tersebut tampak kosong, dipenuhi rumput liar, dan minim perawatan, sehingga memunculkan keprihatinan publik.
Kondisi ini menuai sorotan warga setempat yang menilai proyek tersebut tidak memberikan manfaat nyata meski telah menghabiskan anggaran yang cukup besar.
Dibangun untuk Dorong Ekonomi Rakyat
Pasar Bulo awalnya dibangun dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pedagang kecil dan pelaku UMKM di Kecamatan Bulo. Kehadiran pasar diharapkan menjadi pusat transaksi jual beli hasil pertanian, perkebunan, dan kebutuhan pokok warga sekitar.
Namun, harapan tersebut hingga kini belum terwujud. Bangunan pasar terlihat sepi tanpa aktivitas perdagangan yang berarti.
Kondisi Memprihatinkan, Rumput Liar Menjalar
Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian area pasar ditumbuhi rumput liar, sementara beberapa fasilitas tampak mulai rusak akibat tidak digunakan. Lapak pedagang kosong, akses jalan kurang terawat, dan tidak terlihat pengelolaan yang memadai.
Warga menyebut, sejak selesai dibangun, pasar tersebut jarang digunakan dan perlahan ditinggalkan.
“Sayang sekali, bangunannya bagus tapi tidak dimanfaatkan. Sekarang malah seperti bangunan tak bertuan,” ungkap salah seorang warga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Gedung-Pasar-Rakyat-Bulo-ditumbuhi-rumput-terletak-di-Desa-Bulo-Jl-poros-Bulo-Matangha-Polman.jpg)
Baca juga: Si Jago Merah Melalap Tiga Rumah di Matakali Polman
Pedagang Enggan Berjualan
Salah satu penyebab pasar tidak berfungsi optimal diduga karena minimnya minat pedagang untuk berjualan di lokasi tersebut. Faktor akses, lokasi yang dianggap kurang strategis, hingga kurangnya sosialisasi menjadi alasan utama.
Beberapa pedagang memilih tetap berjualan di pasar lama atau di pinggir jalan yang dianggap lebih ramai dan menguntungkan.
Anggaran Besar, Manfaat Dipertanyakan
Nilai anggaran pembangunan pasar yang mencapai Rp 5 miliar menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Warga mempertanyakan perencanaan dan kajian awal sebelum proyek dilaksanakan, termasuk studi kelayakan dan strategi pengelolaan pascapembangunan.
“Kami berharap uang negara digunakan benar-benar untuk kepentingan rakyat, bukan berakhir jadi bangunan kosong,” ujar warga lainnya.
Perlu Evaluasi dan Tanggung Jawab Pemda
Kondisi Pasar Bulo ini dinilai perlu segera mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. Evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan, pengelolaan, serta pemanfaatan pasar menjadi langkah penting agar aset daerah tidak terus terbengkalai.
Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat.
Dorongan Agar Pasar Segera Difungsikan
Masyarakat berharap Pemkab Polman segera mengambil langkah konkret, seperti melakukan penataan ulang, perbaikan fasilitas, serta mendorong pedagang untuk beraktivitas di pasar tersebut melalui kebijakan yang berpihak.
Selain itu, pengelolaan pasar secara profesional dinilai penting agar Pasar Bulo benar-benar hidup dan menjadi penggerak ekonomi lokal.
Simbol Tantangan Pembangunan Daerah
Terbengkalainya Pasar Bulo menjadi gambaran tantangan pembangunan daerah, di mana proyek infrastruktur tidak selalu sejalan dengan kebutuhan dan kesiapan masyarakat. Tanpa perencanaan matang dan pengawasan berkelanjutan, pembangunan berisiko menjadi pemborosan anggaran.
Masyarakat kini menanti langkah tegas pemerintah daerah agar pasar yang telah menghabiskan miliaran rupiah tersebut tidak terus menjadi bangunan kosong yang ditelan waktu.